Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media ( Menurut Gagne Dan Atkinson )



Berpikir adalah salah satu kemampuan yang harus diajarkan oleh guru kepada siswa. Banyak sekali aktivitas atau profesi manusia yang tergantung pada kemampuan yang satu ini. Berpikir hanya dapat dilakukan oleh manusia, tidak oleh makhluk lain. Tidak heran jika kemampuan berpikir disebut sebagai kemampuan yang membuat kita menjadi manusia. Sejak dulu manusia begitu tertarik untuk mempelajari dirinya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana sebenarnya proses berpikir itu terjadi. Manfaat bagi guru ketika memahami proses berpikir pada manusia, ia dapat memaksimalkan pengajaran untuk para siswanya.


Salah satu teori yang membahas bagaimana proses berpikir manusia dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffrin pada tahun 1968. Kedua ahli psikologi kognitif ini berhasil memaparkan bagaimana perangkat berpikir manusia beserta proses yang terjadi secara jelas, logis dan sederhana. Teori mereka berdua dikenal dengan teori pemrosesan informasi. Teori ini telah banyak dimanfaatkan, termasuk di bidang pendidikan dan komputer. Artikel ini akan membahas teori Atkinson dan Shiffrin secara singkat.

Informasi diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian, informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan informasi hingga 15 detik.

Pemgertian teori pemrosesan informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a.       Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b.      Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c.        Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.      Sensory receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar  tetap berada dalam  sistem, informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.      Working memory
Pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.

3.      Long term memory
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telahdimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe, yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana, 1992).
            Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (1968) mengemukakan bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi srtuktur kognitif yang telah dimiliki individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan pengetahuan ditata didalam struktur kognitif secara hirarkhis. Ini berarti pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang rinci Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkhis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.
            Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.      Menarik perhatian
2.   Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
3.   Merangsang ingatan pada pra syarat belajar
4.      Menyajikan bahan peransang
5.      Memberikan bimbingan belajar
6.      Mendorong unjuk kerja
7.      Memberikan balikan informatif
8.      Menilai unjuk kerja
9.      Meningkatkan retensi dan alih belajar

Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan,  serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi  atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
            Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang  memungkinkan untuk mengkondisi  pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan  bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .
            Beberapa teori yang melandasi perancangan desain  pesan multimedia instruksional ialah teori  pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan  memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan . Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
        Menurut model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).
Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa:
(a) antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu,
(b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan
(c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Dalam pemilihan dan penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi, dan juga evaluasi pembelajaran. Karakteristik multimedia adalah:
1.    Memiliki   lebih   dari   satu   media   yang   konvergen,   misalnya menggabungkan unsur teks dan visual.
2.    Bersifat interaktif, yaitu   memiliki   kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna.
3.    Bersifat mandiri, dalam pengertian member kemudahan dan kelengkapan isi sehingga pengguna bias menggunakan tanpa bimbingan dari orang lain.
Multimedia dalam proses pembelajaran dapat digunakan dalam tiga fungsi, yaitu                                                                                 (1)  multimedia  dapat  berfungsi  sebagai  alat  bantu  instruksional,       
(2)  multimedia dapat  berfungsi  sebagai  tutorial interaktif,                    
(3) multimedia dapat berfungsi sebagai sumber petunjuk belajar.
Kemudian lima langkah dalam teori kognitif tentang multimedia learning:
a)   Memilih kata-kata yang relevan
b)   Memilih gambar-gambar yang relevan
c)   Menata kata-kata yang terpilih
d)   Menata gambar-gambar yang terpilih
e)   Memadukan representasi berbasis-kata dan representasi berbasis-gambar.
Manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran berbantuan multimedia adalah  proses  pembelajaran  lebih  menarik,  lebih  interaktif,  jumlah  waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, dan sikap belajar siswa  dapat  ditingkatkan.  Sedangkan  keunggulan  pembelajaran  berbantuan multimedia adalah sebagai berikut.
a.  Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron, dan lain-lain.
b.  Memperkecil benda yang sangat besar, yang tidak mungkin dihadirkan di sekolah, seperti gajah, rumah, gunung dan lain-lain.
c.  Menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga dan lain-lain.
d.  Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.

Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.

Berdasarkan teori pemrosesan informasi ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para guru:
1. Perhatian sangat penting, oleh karena itu selalu upayakan agar siswa anda benar-benar 
    memperhatikan pelajaran. Meskipun mereka tampak melihat anda, namun belum tentu pikiran
    mereka perhatian kepada apa yang anda jelaskan.
2. Sebaiknya lebih mengutamakan belajar dengan memahami dari pada melalui hafalan.

Berdasarkan penjelasan diatas penulis mengangkat permasalahan sebagai berikut:
1.bagaimana cara agar seorang guru dapat menyampaikan materi yang dapat diingat hingga long term memory anak didik??
2.apa penyebab setiap siswa itu memiliki kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
3.seberapa besar pengaruh teori atkinson dalam teori pemrosesan informasi?

DAFTAR PUSTAKA


http://www.teoriuntukguru.com/2015/12/teori-pemrpsesan-informasi-atkinson-dan.html?m=1
http://memomasbunpane97.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan.html?m=1
http://sriwahyuningsihdmedia.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan.html?m=1

Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no2.
    Setiap siswa memiliki daya ingat yang berbeda-beda dalam proses belajar mereka. Pebedaan cara inilah yang dapat mempengaruhi banyak atau sedikitnya materi yang dapat ditangkap oleh siswa. Kemampuan mengaplikasikan mata pelajaran dalam pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu faktor keberhasilan siswa dalam meningkatkan daya ingat mereka dalam waktu yang lama.
    Semua siswa menginginkan daya ingat mereka lebih baik dan dapat bertahan dalam jenjang waktu yang lama. Namun terkadang beberapa siswa mempunyai daya ingat yang rendah yang disebabkan oleh keadaan fisik, serta cara belajar yang kurang efektif. Kemudian faktor yang harus diperhatikan siswa adalah menggunakan cara belajar efektif yang dapat membantu meningkatkan daya ingat mereka.
    Sehingga karena setiap daya tangkap dan pemahaman siswa yang berbeda-beda maka tentu kemampuan sisea dalam mengelola informasi juga berbeda-beda karena bergantung dari seberapa mampu siswa tersebut untuk bisa paham materi

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang no 2
    Karena setiap siswa itu memiliki daya ingat dan daya serap yang berbeda-beda. faktor yang harus diperhatikan siswa adalah menggunakan cara belajar efektif yang dapat membantu meningkatkan daya ingat mereka.
    Sehingga karena setiap daya tangkap dan pemahaman siswa yang berbeda-beda maka tentu kemampuan siswa dalam mengelola informasi juga berbeda-beda karena bergantung dari seberapa besar daya ingat siswa tersebut mampu untuk bisa paham materi.
    Jawaban permasalahan no 3
    Salah satu teori yang membahas bagaimana proses berpikir manusia dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffrin pada tahun 1968. Kedua ahli psikologi kognitif ini berhasil memaparkan bagaimana perangkat berpikir manusia beserta proses yang terjadi secara jelas, logis dan sederhana. Teori mereka berdua dikenal dengan teori pemrosesan informasi. Teori ini telah banyak dimanfaatkan, termasuk di bidang pendidikan dan komputer. Artikel ini akan membahas teori Atkinson dan Shiffrin secara singkat.
    Berpikir adalah salah satu kemampuan yang harus diajarkan oleh guru kepada siswa. Banyak sekali aktivitas atau profesi manusia yang tergantung pada kemampuan yang satu ini. Berpikir hanya dapat dilakukan oleh manusia, tidak oleh makhluk lain. Tidak heran jika kemampuan berpikir disebut sebagai kemampuan yang membuat kita menjadi manusia. Sejak dulu manusia begitu tertarik untuk mempelajari dirinya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana sebenarnya proses berpikir itu terjadi. Manfaat bagi guru ketika memahami proses berpikir pada manusia, ia dapat memaksimalkan pengajaran untuk para siswanya.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum saudari heni, saya akan mencoba menjawab permalasahan anda yang no 2.

    Menurut saya, alasan kenapa setiap orang mempunyai kemampuan pemrosesan informasi yang berbeda beda adalah karna setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda.

    Kemampuan kita dalam memproses informasi dipengaruhi oleh gaya belajar kita. Selain pengaruh dari IQ, gaya belajar juga sangat berpengaruh.

    Ada anak yang sedari kecil sudah di ajarkan oleh orang tua nya, ada juga yang tidak. Jadi kemampuan anak yang sudah belajar sejak dini itu lebih kuat dan cepat di bandingkan yang tidak. Karna otak sudah terbiasa untuk mengolah informasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi permasalahan nomor satu terkait cara agar seorang guru dapat menyampaikan materi yang dapat diingat hingga long term memory anak didik yaitu dengan memberikan kesempatan ilmu yang peserta didik dapatkan untuk dimaknai atau dipahami. dengan cara setelah selesai menjelaskan materi pelajaran berikan contoh soal yang sedikit berbeda namun cara nya sama, agar si anak berusaha menjawabnnnya, dan ia memiliki masalah besar dalam menjawab soal tersebut. nah masalah ini akan disimpan dlm memorynya terkait materi yang telah diajarkan.

      Hapus
  4. Saya akanenjawab permasalahan pertama
    Mekanisme otak dalam meneruskan sebuah informasi dari short-term memory ke long-term memory adalah dengan memahami informasi tersebut berdasarkan pemahaman sebelumnya, pengalaman sebelumnya, konteks yang pernah dialami dan dipahami sebelumnya, dan berdasarkan informasi-informasi yang telah tersimpan di long-term memory sebelumnya. Memahami informasi dan menyimpannya dalam long-term memory adalah proses mengkoneksikan informasi baru dengan informasi-informasi yang telah dipahaminya sebelumnya, menandainya, memberikan konteks terhadap informasi baru tersebut. 'Bola' informasi baru yang masuk ke ‘kamar’ short-term memory tadi seakan dicari sambungannya dengan 'bola-bola' informasi lainnya yang telah ada di ‘kamar’ long-term memory, kemudian diikat satu sama lain, ditandai, ditarik dari 'kamar' short-term memory dan disimpan ke ‘kamar’ long-term memory.
    Semestinya informasi baru diberikan berdasarkan konteks dan pemahaman yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

    BalasHapus
  5. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no2.
    Saya sangat sependapat dengan sintari dimana,Setiap siswa memiliki daya ingat yang berbeda-beda dalam proses belajar mereka. Pebedaan cara inilah yang dapat mempengaruhi banyak atau sedikitnya materi yang dapat ditangkap oleh siswa. Kemampuan mengaplikasikan mata pelajaran dalam pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu faktor keberhasilan siswa dalam meningkatkan daya ingat mereka dalam waktu yang lama.
    Semua siswa menginginkan daya ingat mereka lebih baik dan dapat bertahan dalam jenjang waktu yang lama. Namun terkadang beberapa siswa mempunyai daya ingat yang rendah yang disebabkan oleh keadaan fisik, serta cara belajar yang kurang efektif

    BalasHapus
  6. Baiklah saya akan menjawab permasalahan anda no dua. penyebab setiap siswa itu memiliki kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda. Kita lihat dari keseharian anak didik tersebut apakah anak tersebut cepat tanggap atau lamban dan juga daya ingat sianak. Nah hal inilah yang mempengaruhi teori pemrosesan anak dalam dirinya berbeda-beda.
    Mungkin juga dari cara guru yang menyampaikan materi kurang menarik.

    BalasHapus
  7. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang pertama.
    Cara yang sangat sederhana adalah mengulang materi yang lalu dengan menggunakan waktu yang efisien. Tentu hal ini bisa meningkatkan kemampuan mengingat siswa, nah disitulah kita dapat mengukur seberapa besar kemampuan siswa dalam mengingat.

    BalasHapus
  8. baik saya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama, menurut saya guru dapat membuat siswa mengingat materi sampai pada memori jangka panjang dengan membuat materi yang akan disampaikan semenarik mungkin. karena apabila suatu materi yang disampaikan dengan menarik siswa dapat selalu mengingat pembelajaran yang ia lakukan pada hari itu, karena pada dasarnya kita akan dapat dengan mudah mengingat sesuatu apabila sesuatu tersebut dapat membuat kita berkesan. misalnya dengan mengadakan praktek dilaboratorium, sesuatu yang baru seperti itu dapat menarik perhatian dari siswa.

    BalasHapus
  9. Cara guru agar siswa dapat mengingat hingga long time memory yaitu dengan memberikan tugas dirumah (PR) dan juga menanyakan tentang materi sebelumnya pada pertemuan selanjutnya

    BalasHapus
  10. Cara guru agar siswa dapat mengingat hingga long time memory yaitu dengan memberikan tugas dirumah (PR) dan juga menanyakan tentang materi sebelumnya pada pertemuan selanjutnya

    BalasHapus
  11. untuk permasalahan yang pertama dapat di lakukan dengan guru memberikan contoh langsung dan yang berkaitan denganhehidupa sehari sehingga lebih mudah di serap dan di simpan di memori jangka panjang

    BalasHapus
  12. Menurut saya bisa dengan praktek langsung atau demonstrasi. Karna siswa akan lama mengingat materi yang diajarkan jika melihat langsung kejadian yang dialaminya.

    BalasHapus
  13. Dengan cara menggunakan cara belajar efektif yang dapat membantu meningkatkan daya ingat mereka.
    Sehingga karena setiap daya tangkap dan pemahaman siswa yang berbeda-beda maka tentu kemampuan sisea dalam mengelola informasi juga berbeda-beda karena bergantung dari seberapa mampu siswa tersebut untuk bisa paham terahadap materi.

    BalasHapus
  14. setiap daya tangkap dan pemahaman siswa yang berbeda-beda maka tentu kemampuan siswa dalam mengelola informasi juga berbeda-beda karena bergantung dari seberapa besar daya ingat siswa tersebut mampu untuk bisa paham materi.

    BalasHapus
  15. Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.

    BalasHapus
  16. Menanggapi permasalahan kedua, menurut saya, kemampuan memproses informasi yang berbeda disebabkan karena faktor internal (dari dalam tubuh) dan faktor eksternal (dari lingkungan yang kurang baik)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Multimedia pembelajaran kimia hasil pengembangan