PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Pada era modern seperti sekarang ini, perkembangan teknologi melesat cepat. Perkembang teknologi ini tak pelak mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat. Program pengembangan media dalam pembelajaranpun turut serta berpacu dalam perkembangan zaman. Media pembelajaran menjadi sangat penting dalam menunjang proses dan hasil belajar mahasiswa disamping aspek kemandirian yang menjadi satu keunggulan dalam jenjang pendidikan sekolah vokasi. Pengembangan inovasi pembelajaran student centerred learning (SCL) dengan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dapat diterapkan dalam matakuliah ini. Penelitian ini dikembangkan kombinasi metode SCL melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan student teams achievement division (STAD) dan e-learning dengan dan tanpa media pembelajaran e-modulinteraktif.
Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast , audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian dari e-learning , hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning adalah suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning , yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Beberapa ahli mengemukakan bahwa istilah “e-learning” mengacu pada penggunaan teknologi internet untuk menyajikan sejumlah pilihan solusi yang sangat luas yang mengarahkan pada peningkatan pengetahuan. Sehingga menurut beberapa ahli yaitu Mary Daniels Brown dan Dave Feasey (2001) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 66) mengemukakan bahwa e-learning adalah bentuk kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan, seperti: internet, Local Area Network (LAN), atau Wider Area Network (WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi, serta didukung oleh berbagai layanan belajar lainnya. E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
Dari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
Berdasarkan teknologi informatika yang digunakan, e-learning kemudian dikelompokkan berdasarkan basis teknologi, yaitu sebagai berikut:
1. Computer Based Training (CBT). Sistem CBT ini mulai berkembang di tahun 80-an dan masih berkembang terus sampai sekarang. Hal ini ditunjang antara lain oleh perkembangan sistem animasi yang kian menarik dan realistis (misalnya aiatem animasi 3 Dimension).
2. Web Based Training (WBT).
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakarSoftware Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakarSoftware Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik.Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.
Dalam sudut pandang guru, ada beberapa manfaat yang diperoleh guru, instruktur antara lain adalah bahwa guru, instruktur dapat :
- Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan -bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi.
- Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.
- Mengontrol kegiatan belajar siswa. Bahkan guru atau instruktur juga dapat mengetahui kapan siswanya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang.
- Mengecek apakah siswa telah mengerjakan soal-soal.
- Latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan memeriksa jawaban siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa.
Seiring perkembangan teknologi internet, metode e-learning mulai dikembangkan. MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat mengubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan MOODLE, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. MOODLE itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment.
Pembelajaran kimia pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks dan LKS sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya interaksi antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang seringkali dianggap sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran kimia, maka dari itu usaha-usaha peningkatan kualitas pembelajaran kimia saat ini terus dilakukan, termasuk peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran. Peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi dan komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran kimia. Teknologi informasi dan komunikasi seharusnya menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan membelajarkan (Sitepu, 2008).
Kimia sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari tetapi terkadang sulit untuk dipahami. Guru harus mampu memilih metode pengajaran yang sesuai, sehingga kimia menjadi mata pelajaran yang menyenangkan untuk dipelajari. Hal ini sudah dibuktikan melalui penelitian Budhiarso (2006) mengungkapkan bahwa pembelajaran kimia SMA dengan media e-learning memberikan hasil yang baik dalam upaya meningkatkan hasil belajar kimia siswa SMA kelas XI materi Sistem Koloid. Pada kelompok kelas eksperimen rata-rata hasil post-testyang diperoleh mencapai 63,86 sedangkan pada kelompok kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional, rata-rata hasil post-test hanya 52,46. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif penggunaan metode e-learning terhadap hasil belajar siswa.
Permasalahan:Seperti yang kita ketahui adanya e-learning akan memberikan kemudahan untuk guru dan siswa melakukan pembelajaran kapan saja dan dimana saja tanpa harus bertatap muka langsung. namun guru akan susah untuk mengontrol siswa, seperti apakah benar siswa tersebut mengerjakan tugas nya sendiri atau tidak. bagaimana seorang guru mengatasi hal tersebut?
Permasalahan:Seperti yang kita ketahui adanya e-learning akan memberikan kemudahan untuk guru dan siswa melakukan pembelajaran kapan saja dan dimana saja tanpa harus bertatap muka langsung. namun guru akan susah untuk mengontrol siswa, seperti apakah benar siswa tersebut mengerjakan tugas nya sendiri atau tidak. bagaimana seorang guru mengatasi hal tersebut?




Saya ingin menyanggah seedikit E-learning itu mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
BalasHapusDari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Jadi dari pernyataan itu interaksi antara siswa dan guru itu bisa terjadi jadi guru juga bisa mengontrol siswanya.
Dan dalam postingan blog yang anda buat saya juga menemukan pernyataan E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
Dari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
Jadi dari pernyataan anda berarti guru bisa mengontrol sisea sudah mngerjakan tugas atau belum dengan guru instruktur
Baik terimakasih atas kritik yang disampaikan oleh saudari zelvi disini saya ingin meluruskan pertanyaan saya benar bahwasannya -learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.namun disini yang saya permasalahkan cara kita sebagai seorang guru untuk benar2 memastikan anak mengerjakan tugas2 yabg diberikan atau apakah benar anak benar2 mengulang pelajaran yg telah diajarkan karna secara tekhnis kita tidak melihat secara langsung proses belajar mengajar.
HapusTerima kasih,semoga bisa dimengerti.
Cara guru memastikan akan didiknya benar-benar belajar dan mengerjakan tugas adalah, pertama guru menerangkan materi kemudian menanyakannya kepada siswa-siswa yang disangka tidam benar-benar belajar, dan memberi hadiah bila ia mampu menjawab. Kedua, pemberian tugas harus berbeda satu sama lain, agar tidak hanya menyalin jawaban teman, dan benar-benar di periksa apakah semua mengerjakan tugas dengan baik.
BalasHapusSeperti itu kalau menurut saya.
Terimakasih saudari nurazlina atas pendapat nya namun disini saya sedikit ingin mempertanyakan reward seperti apa yang dapat kita berikan kepada anak didik melalui proses belajar e-learning ini sedangkan kita tidak bertatap muka berneda dengan proses belajar mengajar biasa.
HapusMenanggapai permasalhan saudari terkait pernyataan seperti yang kita ketahui adanya e-learning akan memberikan kemudahan untuk guru dan siswa melakukan pembelajaran kapan saja dan dimana saja tanpa harus bertatap muka langsung. namun guru akan susah untuk mengontrol siswa, seperti apakah benar siswa tersebut mengerjakan tugas nya sendiri atau tidak. bagaimana seorang guru mengatasi hal tersebut? Menurut saya cara nya dengan melakukan video call dengan sang murid, dan melalui video call tersebut sang guru dapat menanyakan apakah ia mengerti atau tidak. karna biasanya tidak bertemu secara langsung (tatap muka) akan membuat seseorang tidak terlalu malu dalam mengungkapkan opininya.
HapusMenurut saya e-learning merupakan suatu kegiatan yang akan mempermudah guru dan siswa dalam proses pembelajaran, disini guru dapat menyiapkan materi dan tugas-tugas di media internet sehingga dapat diberikan kapan saja, dan tentu e-learning ini dilakukan untuk mendukung kegiatan brlajar yang dilakukan juga dalam tatap muka secara langsung jadi saya sedikit menyanggah dari pertanyaan saudari heni, karena disini guru tetap melakukan interaksi langsung dengan siswa dikemudian harinya, sehingga dengan hal tersebut guru dapat melihat tugas-tugas yang diberikan telah dikerjakan atau tidak oleh siswanya. Jikalau tidak mungkin ada cara lain dalam mengumpulkan tugasnya seperti memberikan batas waktu pengiriman tugas melalui internet ke guru oleh siswa tersebut, sehingga dengan adanya batas waktu maka siswa akan segera mengerjakan tugas yang trlah diberikan
BalasHapusAssalamualaikum saudari heni, saya akan mencoba menjawab permasalahan anda.
BalasHapusKarena kita menggunakan media e-learning. Alangkah baik nya kita memberikan tugas yang semacam e-learning. Seperti, kita menugaskan siswa kita untuk membuat sebuah media dan di presentasikan sendri atau di videokan setelah itu di unggah di you tube. Dengan seperti itu, setiap siswa pasti akan belajar dan membuat sendiri tugas nya masing-masing. Atau bisa juga di zaman yang canggih ini, kita bisa membuat video call grup. Jadi guru bisa bertatap muka dengan siswa nya.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum.
Saya akan menambahkan sedikit mengenai Cara guru mengontrol siswa ialah dengan memperhatikan interaksi siwa tersebut dan ketika guru memberikan soal..dilihat soapa saya yang menjawab dan siapa yg sudaj betul dan masih salah..ketika siswa bisa menjawab soal yang di berikan itu artinya siswa sudah belajar akan materi yang guru berikan sehingga bisa mengisi soal nya
BalasHapusMenurut saya cara guru dalam mengatasi siswa yang seperti itu dengan cara diawal pertemuan siguru bertanya tugasnya dikerjain sendiri atau nyontek guru juga bisa sedikit mengancam siswa dengan mengatakan yang nyontek akan ibu kurangi nilainya nah dengan bertanyaan seperti ini maka siswa tidak akan berani lagi untuk menyontek. Mungkin itu pendapat dari saya terimkasih
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan permasalahan Anda.
BalasHapusDengan adanya cara yang dirasa efektif ini membuat pengajar lebih mudah dalam mengontrol anak didik melalui tugas yang diberikan, di sisi lain dari efektifnya hal ini adalah nilai langsung bisa dilihat oleh anak didik tersebut.
saya akan mencoba menjawab permasalahan anda, menurut saya guru dapat mengontrol intreraksi siswa dalam e-learning dengan cara melakukan evaluasi. misal pada saat guru memberikan soal-soal, setelah dijawab oleh seorang murid, guru dapat melakukan evaluasi terhadap siswa tersebut.
BalasHapusDari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Jadi dari pernyataan itu interaksi antara siswa dan guru itu bisa terjadi jadi guru juga bisa mengontrol siswanya.
BalasHapusDan dalam postingan blog yang anda buat saya juga menemukan pernyataan E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
Dari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Jadi dari pernyataan itu interaksi antara siswa dan guru itu bisa terjadi jadi guru juga bisa mengontrol siswanya.
BalasHapusDan dalam postingan blog yang anda buat saya juga menemukan pernyataan E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
Menurut saya dapat di lakukan dengan cara pemberiaan tugas langsung secara live maka akan kelihtan apa yg di kerjakan oleh siswa tsb
BalasHapusMenurut saya bisa dengan diberikan sedikit rasa takut untuk siswa siswa berupa ancaman. Ancaman bila yang mencontek atau menyalin tugas dari internet dikurangi poin nilainya. Otomatis siswa tersebut akan sedikit punya rasa takut.
BalasHapusBaiklah saya akan menambahkan interaksi antara siswa dan guru itu bisa terjadi jadi guru juga bisa mengontrol siswanya.
BalasHapusDan dalam postingan blog yang anda buat saya juga menemukan pernyataan E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa.
Dari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
Jadi dari pernyataan anda berarti guru bisa mengontrol sisea sudah mngerjakan tugas atau belum dengan guru instruktur.
Dari sudut pandang siswa Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Jadi dari pernyataan itu interaksi antara siswa dan guru itu bisa terjadi jadi guru juga bisa mengontrol siswanya.
BalasHapusPengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.
BalasHapusCaranya dengan menggabungkan e-learning dengan tatap muka.
BalasHapus